Nama :
Ahmad Marul Jaelani
Kelas :
4IB01
Npm :
10417338
APLIKASI MULTIMEDIA DALAM
PENDIDIKAN
Istilah
multimedia yang digunakan dalam pendidikan sekarang ini memberi gambaran
terhadap suatu sistem komputer dimana semua media; teks, grafik, audio/suara,
animasi dan video berada dalam satu model perangkat lunak yang menjelaskan atau
menggambarkan satu program pendidikan. Program multimedia yang dirancang khusus
untuk keperluan pendidikan perlu mendapat perhatian yang serius agar program
tersebut dapat memenuhi keperluan pendidikan.
Morgan & Shade dari sekian banyak program
yang ada di pasaran hanya 20%-25% yang dikategorikan memenuhi syarat serta
layak digunakan untuk keperluan pendidikan, sementara 75%-80% program dapat mengelirukan dan masih
susah untuk digunakan bahkan lebih cenderung hanya menampilkan permainan dan
hiburan. Sementara Wright & Shade mengatakan bahwa keberkesanan proses
belajar dengan menggunakan multimedia tergantung kepada kualitas program. Ini berarti
bahwa pengembangan program multimedia untuk keperluan pendidikan tidaklah
semudah untuk program permainan dan hiburan. Karena itu program multimedia
untuk keperluan pendidikan memerlukan disain yang sesuai dengan tujuan
pendidikan yang tercantum dalam kurikulum.
Usaha untuk memperbaiki program multimedia agar
sesuai dengan prinsip pedagogik terus dilakukan dengan melibatkan berbagai
pihak dalam pendidikan agar program multimedia tersebut sesuai dengan standar
pendidikan yang diperlukan.
Menurut beberapa pakar pendidikan, teknologi,
dan psikologi, pengembangan program multimedia untuk pendidikan agar menekankan
pada syarat mudah digunakan, memenuhi keperluan mengembangkan pengetahuan,
meningkatkan keterampilan dan kreativitas, dan menyediakan kemudahan interaktif
serta memungkinkan adanya umpan balik .
A.
Perkembangan Multimedia Dalam Pendidikan
Pada dekade 1960 komputer telah menghasilkan teks, suara, dan
grafik walaupun masih sangat sederhana sehingga bisa digunakan dalam media
pendidikan. Donald Bitzer sebagai Bapak PLATO mengembangkan pembelajaran
berbasis komputer pada tahun 1966 di University of Illinois at
Urbana-Champaign.
Uji coba pembelajaran berbasis komputer pertama
dilakukan pada tahun 1976 di sekolah Waterford Elementary School.
Sejak saat itu, pembelajaran berbasis komputer
mulai dipublikasikan dan digunakan di sekolah-sekolah umum sebagai media
pembelajaran berbasis komputer.
Lahirnya multimedia yang digunakan dalam pendidikan adalah salah bagian
perkembangan dari pembelajaran berbasis komputer tersebut. Pada dekade tahun
1990 komputer berbasis multimedia interaktif mulai berkembang, para pendidik
mulai mempertimbangkan implikasi apa yang mungkin timbul dari media baru ini
jika diterapkan dalam lingkungan belajar mengajar. Dalam jangka waktu yang
relatif singkat, munculnya multimedia dan teknologi komunikasi yang terkait
telah menerobos hampir ke setiap aspek dalam kehidupan masyarakat.
Landasan ekonomis penggunaan multimedia menurut
Bennet, Priest, & Macpherson adalah penggunaan multimedia baru dalam skala
besar dan teknologi komunikasi yang terkait untuk pengajaran dan pembelajaran
dapat menawarkan harga yang lebih murah dibandingkan pengajaran dengan cara
tradisional dan jarak jauh. Hal ini juga akan membantu membangun dan mempertahankan
keunggulan kompetitif bagi lembaga di era globalisasi pendidikan.
Sepintas landasan pedagogis sangat erat kaitannya dengan landasan
ekonomi sebab penggunaan multimedia dalam pendidikan menjadi kekuatan pendorong
terbesar yang ditunjang dengan penanaman modal secara besar-besaran yang
dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan. Integrasi multimedia ke dalam
kurikulum akan menyebabkan terjadinya transformasi pedagogis dari pendekatan
pembelajaran tradisional yang berpusat pada pendidik menuju pendekatan
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
Dari perspektif peserta didik, peranan pendidik
beralih dari yang semula berperan sebagai instruktur tradisional dan pemasok
pengetahuan menjadi peran yang lebih erat terkait dengan dukungan dan fasilitas
dari konstruksi pengetahuan secara aktif oleh peserta didik.
Pendekatan yang berpusat pada peserta didik menyiratkan pemberdayaan
bagi peserta didik individu dan kecakapan pengarahan diri bagi peserta didik,
sehingga lebih bermakna, pengalaman belajar otentik yang mengarah pada
pembelajaran seumur hidup. Implikasi ini terdapat pada inti penjelasan mengenai
pedagogis berbasis konstruktivis untuk integrasi multimedia dalam konteks
pendidikan .
B.
Karakteristik Multimedia Untuk Keperluan
Pendidikan
Penggunaan multimedia
dalam pendidikan mempunyai beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh media
lain.
Diantara keistimewaan itu
adalah:
a. Multimedia dalam
pendidikan berbasis komputer;
b. Multimedia
mengintegrasikan berbagai media (teks,gambar, suara, video dan animasi) dalam
satu program secara secara digital;
c. Multimedia menyediakan
proses interaktif dan memberikan kemudahan umpan balik;
d. Multimedia memberikan
kebebasan kepada peserta didik dalam menentukan materi pelajaran;
e. Multimedia memberikan
kemudahan mengontrol yang sistematis dalam pembelajaran.
C.
Multimedia Dalam Pendidikan Berbasis Komputer
Criswell mendefinisikan CAL
sebagai penggunaan komputer dalam menyampaikan bahan pengajaran dengan
melibatkan peserta didik secara aktif serta memberikan umpan balik. Pendek kata
tujuan CAL ialah untuk mengajar. Mengajar bermakna menyampaikan pengajaran
dengan menggunakan program komputer. Menurut Gagne dan Briggs komputer menjadi
popular sebagai media proses belajar karena komputer memiliki keistimewaan yang
tidak dimiliki oleh media proses belajar yang lain sebelum zaman komputer.
Diantara keistimewaan tersebut adalah:
a. Hubungan interaktif: Komputer menyebabkan terwujudnya
hubungan diantara stimulus dengan respon. Bahkan menurut Dublin komputer dapat
menumbuhkan inspirasi dan meningkatkan minat.
b. Pengulangan: Komputer memberi fasilitas bagi pengguna
untuk mengulang apabila diperlukan. Untuk memperkuat proses belajar dan
memperbaiki ingatan. Dalam pengulangan amat diperlukan kebebasan dan kreativitas
dari para peserta didik .
c. Umpan balik dan penguatan: Media komputer membantu
peserta didik memperoleh umpan balik terhadap pelajaran secara leluasa dan bisa
memacu motivasi peserta didik dengan penguatan positif yang diberi apabila
peserta didik memberikan jawaban.
Berbagai kajian telah dijalankan
untuk mengukur keberkesanan komputer sebagai media proses belajar. Dari hasil
kajian yang lalu ada yang menyatakan bahwa CAL telah menunjukkan kesan positif
terhadap proses belajar dan ada juga yang menyatakan CAL menunjukkan kesan
negatif. Namun secara keseluruhannya lebih banyak kajian yang menyatakan bahwa
CAL memberi kesan yang positif dibandingkan dengan proses belajar yang
menggunakan metoda tradisional
Suppes dan Morningstar mengkaji
CAL dalam bidang Bahasa Rusia mendapatinya lebih berkesan karena lebih mudah
diingat daripada bidang Biologi. Roblyer menyatakan bahwa dalam bidang
Matematika, bahasa dan keterampilan kognitif, hasilnya adalah sama antara CAL
dengan metoda tradisional.
Pemanfaatan multimedia telah
memberikan dampak yang positif dalam proses pembelajaran, namun dampak tersebut
dalam kenyataannya masih perlu lebih didesiminisikan kepada para pendidik,
sebab pada kenyataannya para pendidik sulit memenuhi tantangan perubahan yang
dituntut oleh teknologi multimedia dan terbatas juga dalam mengeksploitasi
perubahan tersebut.
Torrisi & Davis melakukan
studi dalam mengembangkan materi multimedia online. Data yang diperoleh dari
studi ini menyoroti beberapa isu utama yang ditujukan dalam upaya pengembangan
pendidik. Pendidik dalam studi ini diminta untuk mengidentifikasi apa yang
mereka anggap sebagai kompetensi utama yang harus peserta didik kembangkan
sebagai hasil studi subjek.
Setiap pendidik juga diminta
untuk menjelaskan peranan materi secara online dalam pengajaran mereka.
Kurangnya keselarasan antara kompetensi utama dan penggunaan materi online
merupakan indikasi dari penggunaan teknologi multimedia yang tidak benarbenar
terintegrasi dengan tujuan kurikulum, isi, sasaran dan konteks, melainkan hanya
sebatas tambahan atau add-on saja.
Alasan penggunaan teknologi
multimedia sebagai pelengkap itu terungkap dalam wawancara dengan pendidik
tersier, yang menyarankan penggunaan teknologi multimedia online sebagai
latihan dalam menerjemahkan materi ke dalam media lain, yang kebanyakan
menggunakannya untuk akses dan sebagai alternatif dari penyampaian secara tatap
muka atau penyampaian materi yang dicetak dan konfirmasi bukan sebagai akuisisi
keterampilan sederhana yang dibutuhkan untuk menterjemahkan materi ke dalam
media baru.
Dengan anggapan bahwa integrasi
teknologi adalah sebuah proses yang mengarah pada transformasi dan inovasi juga
mengarahkan perhatian kita kepada kebutuhan untuk memasukkan unsur-unsur
praktek reflektif ke dalam setiap kerangka kerja dan pedoman pengembangan
pendidik. Istilah «praktek reflektif» digunakan di sini untuk mencakup gagasan
bahwa pendidik secara sadar membuat penilaian tentang penampilan dan
keberhasilan strategi mereka. Pendapat mengenai evaluasi adalah inheren dalam
gagasan praktek reflektif.
Menurut Ballantyne, Bain dan
Packer , kurangnya pemikiran secara mendalam menyebabkan kurangnya kesadaran
dari «kesesuaian dari... metode yang dapat membawa peserta didik ke
pembelajaran yang berkualitas tinggi», sehingga menghasilkan metode pengajaran
tradisional atau metode pengajaran yang tidak efektif. Kebutuhan bagi pendidik
untuk dapat mendalami praktek-praktek mereka tidak dapat dikesampingkan.
Pengembangan strategi baru yang secara tepat dapat mengintegrasikan teknologi
multimedia ke dalam kurikulum hanya akan berlangsung, menurut Tearle, Dillon, dan
Davis , ketika pendidik telah «memeriksa kembali pendekatannya dalam proses
belajar mengajar».
Dalam 2000 studi yang dilakukan
oleh Torrisi dan Davis, penemuan penting yang lain adalah bahwa diantara
kekhawatiran tentang proses produksi oleh pendidik, perhatian utamanya tertuju
pada kurangnya pengetahuan mengenai atribut media dan kemungkinannya serta
perasaan ketidakmampuan mereka dalam hal memanfaatkan potensi dari media yang
tersedia.
D.
Multimedia Memberikan Kemudahan Mengontrol Yang Sistematis Dalam Pembelajaran
Proses belajar berbantukan komputer bisa dilaksanakan secara berkelompok atau sendirian. Walaupun berkelompok, namun pada dasarnya bahwa proses belajar adalah tugas perseorangan/individual. Lebih jauh Laurillard menjelaskan bahwa tidak ada alasan untuk desainer program, apakah pendidik, peneliti, atau pemprogram, mengetahui lebih baik daripada peserta didik bagaimana mereka seharusnya belajar. Sebagai tambahan kepada masalah ini Taylor & Laurillard menyarankan kontrol terhadap proses belajar adalah penting dalam perkembangan peserta didik karena akan menolong memperkuat rasa memiliki, dan membantu perkembangan ke arah kedewasaan, keilmuan dan mencerminkan pendekatan proses belajar yang akan bernilai sepanjang masa.
Plowman menyarankan bahwa kebebasan peserta didik dalam
menentukan proses belajar mereka dapat membangkitkan motivasi. Hiperteks
sesungguhnya menawarkan satu tingkat kontrol pengguna yang tinggi meskipun
tidak menolong menentukan tujuan proses belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar